RSS

Alat Musik Tadisional Indonesia

Musik Tradisional Indonesia

NKRI adalah sebuah negara yang meliputi ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana dari sekian banyaknya kepulauan beserta masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh dan berkembang berbagai budaya daerah. Seni tradisional yang merupakan jati diri, identitas dan media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.

Hampir seluruh wilayah NKRI mempunyai seni musik tradisional yang khusus dan khas. Dari keunikan tersebut bisa nampak terlihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Seni tradisonal itu sendiri mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi, sehingga dapat dikenali karakter dan ciri khas masyarakat Indonesia, yaitu yang terkenal ramah dan santun.

Untuk lebih mengenal lebih dekat musik tradisional kita dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok yaitu :

1. Instrumen Musik Perkusi.

Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang tergolong dalam alat musik perkusi adalah Gamelan, Kendang, Kecapi, Arumba, Talempong, Sampek dan Kolintang, Rebana, Bedung, Jimbe dan lain sebagainya.

a. Gamelan adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam, gamelan berasal dari daerah Jawa tengah, Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat disebut dengan Degung dan di Bali disebut Gamelan Bali. Satu perangkat gamelan terdiri dari instrumen saron, demung, gong, kenong, slentem, bonang, peking, gender dan beberapa instrumen lainnya. Disamping itu gamelan mempunyai nada pentatonis/pentatonic.

b. Kendang adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan (kambing). Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia. Di daerah Jawa Barat kendang mempunyai peranan penting dalam tarian Jaipong. Di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi tarian, wayang dan ketoprak. Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias. Rebana adalah jenis alat musik yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam. rebana dapat dijumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.

c. Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari daerh Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang menyerupai kecapi adalah siter dari Jawa Tengah.

d. Arumba (alunan rumpun bambu) berasal dari daereah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat dari bahan bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pad awalnya arumba menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya menggunakan tangga nada diatonis.

e. Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau. Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do).

f. Sampek (sampe/sapek) adlah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal dari daerah Kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang dipenuhi dengan ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya menyerupai sampek adalah Hapetan dari daerah Tapanuli, Jungga dari Sulawesi Selatan.

g. Kolintang atau kulintang berasal dari daerah Minahasa. Alat musik ini mempunyai tangga nada diatonis yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis. Bahan dasar dibuat dari kayu dan cara untuk memainkan alat musik ini di pukul dengan menggunakan stik.

h. Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur, kecapi ini terbuat dari bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah bulatan.

2. Instrumen Musik Gesek.

Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi). Rebab terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa. Rebab jenis ini dapat dijumpai di Bali, Jawa dan Kalimantan Selatan.

3. Instrumen Musik Tiup.

Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu hampir semua daerah di Indonesia dapat dijumpai alat musik ini. Saluang adalah alat musik tiup dari Sumatera Barat, serunai dapat dijumpai di Sumatera Utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40 – 100 cm dengan garis tengah 2 cm.

Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat musik tiup yang mempunyai 4 – 6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni musik tradisional yang menggunakan alat musik seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura dan Papua.

Angklung: Alat Musik Tradisional Asli Jawa Barat

Angklung: Alat Musik Tradisional Asli Jawa Barat

Angklung merupakan sebuah alat musik tradisional terkenal yang dibuat dari bambu dan merupakan alat musik asli Jawa Barat, Indonesia. Dulunya, angklung memegang bagian penting dari aktivitas upacara tertentu, khususnya pada musim panen. Suara angklung dipercaya akan mengundang perhatian Dewi Sri (Nyi Sri Pohaci) yang akan membawa kesuburan terhadap tanaman padi para petani dan akan memberikan kebahagian serta kesejahteraan bagi umat manusia.Angklung yang tertua di dalam sejarah yang masih ada disebut Angklung Gubrag dibuat di Jasinga, Bogor, Indonesia dan usianya telah mencapai 400 tahun. Sekarang ini, beberapa angklung tersebut disimpan di Museum Sri Baduga, Bandung, Indonesia.Dengan berjalannya waktu, Angklung bukan hanya dikenal di seluruh Nusantara, tetapi juga merambah ke berbagai negara di Asia. Pada akhir abad ke-20, Daeng Soetigna menciptakan angklung yang didasarkan pada skala suara diatonik. Setelah itu, angklung telah digunakan di dalam bisnis hiburan sejak alat musik ini dapat dimainkan secara berpadu dengan berbagai macam alat musik lainnya. Pada tahun 1966, Udjo Ngalagena, seorang siswa dari Tuan Daeng Soetigna mengembangkan angklung berdasarkan skala suara alat musik Sunda, yaitu salendro, pelog, dan madenda.

Macam-macam Angklung

1. Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka Badui) digunakan terutama karena hubungannya dengan upacara padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Angklung ditabuh ketika orang Kanekes menanam padi; ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu, Badui Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, angklung masih bisa ditampilkan di luar ritus padi dan tetap memunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: “Lutung Kasarung”, “Yandu Bibi”, “Yandu Sala”, “Ceuk Arileu”, “Oray-orayan”, “Dengdang”, “Yari Gandang”, “Oyong-oyong Bangkong”, “Badan Kula”, “Kokoloyoran”, “Ayun-ayunan”, “Pileuleuyan”, “Gandrung Manggu”, “Rujak Gadung”, “Mulung Muncang”, “Giler”, “Ngaranggeong”, “Aceukna”, “Marengo”, “Salak Sadapur”, “Rangda Ngendong”, “Celementre”, “Keupat Reundang”, “Papacangan”, dan “Culadi Dengdang”.

Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Badui Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan, tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari dua buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak tiga buah. Di Kajeroan, kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, Kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu, Badui Jero). Kajeroan terdiri dari tiga kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

2. Angklung Dogdog Lojor
Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.
Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah dua buah dogdog lojor dan empat buah angklung besar. Keempat buah angklung ini memunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang. Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya: “Bale Agung”, “Samping Hideung”, “Oleng-oleng Papanganten”, “Si Tunggul Kawung”, “Adulilang”, dan “Adu-aduan”. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.

3. Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di Kampung Cipining, Kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung). Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa Kampung Cipining mengalami musim paceklik.

4. Angklung Badeng
Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau ke-17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen, dan Nursaen belajar agama Islam ke Kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu dua angklung roel, satu angklung kecer, empat angklung indung dan angklung bapa, dua angklung anak, dua buah dogdog, dua buah terbang atau gembyung, serta satu kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain disajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam. Lagu-lagu badeng: “Lailahaileloh”, “Ya’ti”, “Kasreng”, “Yautike”, “Lilimbungan”, dan “Solaloh”.

5. Buncis
Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit, lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu “cis kacang buncis nyengcle …”. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis: dua angklung indung, dua angklung ambrug, satu angklung panempas, dua angklung pancer, satu angklung enclok, tiga buah dogdog (satu talingtit, satu panembal, dan satu badublag). Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: “Badud”, “Buncis”, “Renggong”, “Senggot”, “Jalantir”, “Jangjalik”, “Ela-ela”, “Mega Beureum”. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yakni: angklung buncis (Priangan/Bandung), angklung badud (Priangan Timur/Ciamis), angklung bungko (Indramayu), angklung gubrag (Bogor), angklung ciusul (Banten), angklung dog dog lojor (Sukabumi), angklung badeng (Malangbong, Garut), dan angklung padaeng yang identik dengan angklung nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.


 
4 Komentar

Posted by pada April 29, 2011 in Uncategorized

 

Batik Jawa



BATIK sangat cepat menyerap unsur-unsur baru yang berada di sekitar masyarakat, terutama batik-batik dari daerah pesisir. Batik Belanda menjadi istilah khusus untuk menggambarkan pengaruh orang-orang Belanda di Jawa. Ada batik dengan motif yang berasal dari cerita Si Runjung Merah (Little Riding Hood), ada motif rangkaian bunga yang diikat pita dan disebut sebagai motif buketan dari asal kata bouquet. Motif burung hong, singa, merak, adalah beberapa yang menunjukkan pengaruh Cina.
Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942-1945 sebagai bagian dari kampanye penaklukan Asia Timur Raya, pengaruh Jepang juga terasa pada batik-batik di pesisir utara Jawa Tengah. Pada masa itu, dilahirkan batik-batik tulis yang disebut sebagai batik Jawa Hokokai. Nama ini mengikuti nama organisasi propaganda Jepang yang mengindoktrinasi semua yang berusia di atas 14 tahun tentang konsep Asia Timur Raya. Mungkin karena periode pendudukannya yang singkat serta kekejaman Jepang yang luar biasa selama 3,5 tahun masa penjajahan itu, maka sedikit saja informasi yang tersedia tentang batik Jawa Hokokai. Juga belum ada tulisan yang khusus membahas batik dari periode ini.
Batik-batik dari era 1942-1945 yang sering disebut sebagai batik Jawa Hokokai ini dipamerkan di Gedung Arsip Nasional pada tanggal 13 September – 24 September 2000 dari pukul 09.00-16.30, termasuk Minggu. “Pada hari Kamis (21/9) malam ada presentasi batik Jawa Hokokai dari Iwan Tirta di Gedung Arsip, sebaiknya yang berminat memesan tempat lebih dulu karena tempatnya terbatas,” kata Tamalia Alisjahbana, Direktur Eksekutif Yayasan Gedung Arsip Nasional.

Tanda penyesuaian
Iwan Tirta dalam bukunya Batik, A Play of Light and Shades, menyebutkan para juragan batik memperkenalkan batik Jawa Hokokai sebagai tanda “penyesuaian” kepada penguasa baru supaya mereka mendapat tempat. Batik Hokokai mengingatkan pada sehelai kanvas, di mana setiap bidangnya diisi dengan rapat oleh ragam hias. Bunga sakura dimasukkan ke dalam batik Hokokai, tetapi secara keseluruhan tidak ada pengaruh khusus desain Jepang. Menurut Iwan, batik Hokokai tampak sebagai evolusi alamiah banyak batik lain di pantai utara Jawa yang dipengaruhi oleh Cina dan Eropa.
Hermen C Veldhuisen dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java, secara singkat menyebut batik Hokokai dibuat di bengkel-bengkel milik orang Indo-Eropa, Indo-Arab, dan Peranakan, yang diharuskan bekerja untuk orang-orang Jepang karena kualitas pekerjaan bengkel mereka yang sangat halus. Sedangkan kain katunnya dipasok oleh orang-orang yang ditunjuk oleh tentara pendudukan Jepang.
Ciri-ciri kain panjang pada masa ini menurut Veldhuisen adalah penuhnya motif bunga pada kain tersebut. Meskipun gaya batik ini disebut sebagai diperkenalkan oleh dan untuk Jepang, tetapi sebetulnya gaya ini sudah muncul beberapa tahun sebelumnya. Bengkel kerja milik orang Peranakan di Kudus dan Solo pada tahun 1940 sudah menggunakan motif buketan yang berulang, dengan latar belakang yang sangat padat dan disebut sebagai buketan Semarangan. Kain-kain ini dibuat untuk Peranakan kaya di Semarang.
Kain batik pagi-sore, yaitu kain batik yang terbagi dua oleh dua motif yang bertemu di bagian tengah kain secara diagonal, juga bukan merupakan ciri khas batik Hokokai, karena kain pagi-sore ada kain pagi-sore yang dibuat pada tahun 1930 di Pekalongan. Dengan kain pagi-sore, efisiensi pemakaian menjadi salah satu tujuan karena selembar kain bisa dipakai untuk dua kesempatan dengan motif berbeda. Warna yang lebih gelap biasanya dipakai di bagian luar untuk pagi dan siang hari, sementara bagian yang berwarna pastel dipakai pada acara malam hari.
Meskipun begitu, Veldhuisen menyebutkan batik Hokokai adalah salah satu contoh gaya batik yang paling banyak berisi detail, menggabungkan ciri pagi-sore, motif terang bulan, dan tanahan Semarangan. Batik Hokokai menggunakan latar belakang yang penuh dan detail yang digabungkan dengan bunga-bungaan dalam warna-warni yang cerah. Motif terang-bulan awalnya adalah desain batik dengan motif segi tiga besar menaik secara vertikal di atas latar belakang yang sederhana.
Belum diriset
Meskipun buku-buku tentang batik umumnya hanya menyebut sekilas saja tentang batik Jawa Hokokai, tetapi Yayasan Gedung Arsip Nasional berhasil menyusun katalog pameran dengan menggunakan informasi dari nara sumber yang masih ada. Mereka adalah kolektor batik atau juragan pembuat batik, seperti Ny Eiko Adnan Kusuma, Ny Nian Djoemena yang menulis beberapa buku tentang kain Indonesia, dan Iwan Tirta yang artisan batik.
Kain-kain batik Jawa Hokokai yang dipamerkan di Gedung Arsip Nasional itu hampir semuanya merupakan batik pagi-sore dengan warna yang cemerlang. Kupu-kupu merupakan salah satu motif hias yang menonjol selain bunga. Meskipun kupu-kupu tidak memiliki arti khusus untuk masyarakat Jepang, tetapi orang Jepang sangat menyukai kupu-kupu. Namun, kupu-kupu dianggap bukan merupakan pengaruh Jepang, melainkan pengaruh dari juragan Cina yang membuat batik di bengkel mereka. Untuk orang Cina, terutama yang berada di Indonesia, kupu-kupu merupakan lambang cinta abadi seperti dalam cerita Sampek Engtay.
Motif dominan lainnya adalah bunga. Yang paling sering muncul adalah bunga sakura (cherry) dan krisan, meskipun juga ada motif bunga mawar, lili, atau yang sesekali muncul yaitu anggrek dan teratai.
Motif hias yang sesekali muncul adalah burung, dan selalu burung merak yang merupakan lambang keindahan dan keanggunan. Motif ini dianggap berasal dari Cina dan kemudian masuk ke Jepang.
Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi dengan misalnya motif bunga padi. Menurut Tamalia, itu menggambarkan suasana saat itu di mana kain sangat terbatas sehingga pembatik memiliki banyak waktu untuk mengerjakan selembar kain dengan ragam hias yang padat. Sebagian batik Hokokai ada yang menggunakan susumoyo yaitu motif yang dimulai dari salah satu pojok dan menyebar ke tepi-tepi kain tetapi tidak bersambung dengan motif serupa dari pojok yang berlawanan.
Meskipun namanya berbau Jepang dan muncul pada masa pendudukan Jepang, tetapi menurut Tamalia batik Hokokai tidak diproduksi untuk keperluan Jepang melainkan untuk orang-orang Indonesia sendiri. Batik-batik itu awalnya dipesan oleh orang dari lembaga Jawa Hokokai untuk orang-orang Indonesia yang dianggap berjasa dalam propaganda Jepang. Kemudian batik seperti ini menjadi mode dan banyak orang Indonesia kaya yang ikut membeli batik dengan ciri tersebut.
Yang masih menimbulkan pertanyaan, meskipun pendudukan Jepang atas Indonesia dikenang sebagai masa penjajahan yang sangat pahit, tetapi mengapa kepahitan itu tidak muncul dalam ragam hias sama sekali. Justru batik Jawa Hokokai memberi kesan umum sebuah kegembiraan dengan warna yang cerah, bunga, kupu-kupu, merak. Di sini, memang masih diperlukan riset lebih jauh mengenai batik ini.
Jawa baru
Setelah Perang Dunia II usai, Jepang takluk dan angkat kaki dari Indonesia, batik sebagai industri mengalami masa surut. Namun, motif-motif batik terus berkembang, mengikuti suasana. Ketika itu juga muncul istilah seperti batik nasional dan batik Jawa baru. Batik Jawa baru bisa disebut sebagai evolusi dari batik Hokokai. Pada tahun 1950-an batik yang dihasilkan masih menunjukkan pengaruh batik Hokokai yaitu dalam pemilihan motif, tetapi isen-isen-nya tidak serapat batik Hokokai.
Artisan batik yang kembali mengangkat kembali motif Hokokai adalah Iwan Tirta. Pada tahun 1980-an Iwan menginterpretasi ulang motif batik Jawa Hokokai dalam bentuk desain yang baru. Ia memperbesar motif bunga seperti krisan dan mawar serta menambahkan serbuk emas 22 karat sebagai cara untuk mempermewah penampilan batik tersebut. Untuk pergelarannya pada akhir tahun ini, Iwan juga membuat motif kupu-kupu dalam ukuran besar.
Batik memang bukan asli seni membuat ragam hias khas Indonesia, tetapi sejarah dan perkembangan batik menunjukkan bahwa batik Indonesia masih yang terbaik.

Bunga krisan adalah salah satu motif yang digunakan pada batik Jawa Hokokai.

Pagi-sore adalah sebuah cara menggabungkan dua desain batik dengan dua warna pada selembar kain.

Batik dari Iwan Tirta yang merupakan interpretasi terhadap batik Jawa Hokokai.

Kupu-kupu, bunga mawar, dan motif parang, banyak ditemukan pada batik Jawa Hokokai.

Cara pembuatan
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Batik Tradisi Jawa (Ethnic, Unik, n’ Exclusive Fashion

KODE : Scd.04-13

Sackdress batik lengan pendek ini juga sangat menarik baik perpaduan warna (biru dan kemerahan) maupun modelnya.
-Ukuran all size
-Price Rp.65.000,-

Sackdress Batik Scd.04-12

Sackdress batik lengan pendek ini sangat cantik, karena perpaduan warna dan motif yang sangat anggun.
-Ukuran all size
-Price Rp.65.000,- / ptg

Sackdress Batik Scd.04-11

KODE : SCD.04-11

Anda yg suka tampil seksi, eksotis namun tetap sopan cocok memakai busana ini. Sackdress tanpa lengan ini terlihat menarik dan eksotis dengan perpaduan warna busana (motif dan warna dasar) yang sangat pas. Busana ini cocok untuk acara2 resmi maupun acara non resmi lainnya.
-Ukuran all size
-Price Rp.65.000,-/ptg

Longdress Batik Sld.04-09

Anda pecinta busana2 panjang (longdress) mesti segera mengkoleksi longdress batik ini. Perpaduan warna dasar dan motif sangat menarik. Modelnya juga baru, dengan model lengan serut (bisa disesuaikan menjadi lgn pendek atau tanpa lengan). Cocok untuk acara2 resmi maupun acara non formal lainnya.
-Ukuran all size
-Price Rp.65.000,-

Sackdress Batik Scd.04-10

KODE : Scd.04-10
Melihat warna dan motif sackdress batik ini, kesan eksotis akan terlihat. Perpaduan warna hijau tua dan kecoklatan dengan model dress masa kini membuat si pemakai terlihat menarik dan eksotik. Warna dan motif terkesan unik, yang dipadukan model busana masa kini. S

-Ukuran all size
-Price Rp.65.000,-

Sackdress batik Scd.04-07

KODE : Scd.04-07

Sackdress batik tanpa lengan yang sangat cantik ini terlihat seksi namun tetap sopan.  Kombinasi warna yang sederhana yaitu perpaduan coklat tua dan coklat muda, dengan model kerah rempel serta tali pita didpn menambah kecantikan dress ini.
-Ukuran all size
-Price Rp.65.000,- / ptg

Sackdress Batik Scd.04-06

KODE : Scd.04-06

Model busana batik ini adalah sackdress tanpa lengan. Yg membuat busana ini menawan adalah kombinasi warna dasar dan motifnya yang sangat cantik.  Warna dasar putih tulang, dg kombinasi warna motif kehijauan, kecoklatan dan merah muda.

-Ukuran all size
-Price : Rp.65.000,- / ptg

Sackdress Batik Scd.04-05

KODE : Scd.04-05

Sackdress batik tanpa lengan ini juga sangat menawan karena warna dan motifnya yg sederhana.  Namun kombinasi warna dan motif yg pas, dipadu model yang menarik, bisa menambah rasa percaya diri si pemakai. Warna dasar dress ini adalah putih tulang dengan kombinasi warna motif yang menarik.

-Ukuran : all size
-Price Rp.65.000,-/ptg

Sackdress Batik Scd.04-02

KODE : Scd.04-02

Sackdress batik lengan pendek ini motif dan warnanya cukup sederhana. Namun justru daya tariknya ada disini.  Warna dasar putih tulang dengan motif kombinasi kemerahan, coklat dan kehijauan membuat busana batik ini menjadi kelihatan cantik namun sederhana.
-Ukuran all size
-Price Rp.65.000,-/ptg

Reaksi:

Sackdress Batik Scd.04-03

KODE : Scd.04-03

Sackdress batik yang sangat menawan ini hanya dibandrol hrg Rp.65.000,-/ptg. Warna gradasi, gabungan dari biru, merah kecoklatan dan kekuningan, serta model yg membuat nyaman para pemakainya

-Ukuran : all size
-Price = Rp. 65.000,- / ptg

Sackdress Batik Scd.04-04

KODE : Scd.04-04

Sackdress batik lengan pendek ini berbahan dasar kain katun. Desain modelnya cukup menawan, dg warna dasar ungu dan warna motif kombinasi merah, hijau dan kebiruan yang menambah kecantikan busana ini.

-Ukuran : all size
-Price = Rp. 65.000,-/ptg

Minggu, 10 April 2011

Blouse Batik Sb.03-22

KODE : Sb.03-22

-Blouse batik lengan panjang
-Warna merah muda keunguan
-Ukuran all size
-Price = Rp. 48.000,-

Reaksi:

Blouse Batik Sb.03-23

KODE : Sb.03-23

-Blouse batik lengan panjang
-Warna dominan biru
-Ukuran all size
-Harga = Rp. 48.000,-

Sackdress Batik Scd.03-20

KODE : Scd.03-20

-Sackdress batik lengan model serut
-Warna kombinasi hitam, kemerahan, kehijauan
-Ukuran all size
-Harga = Rp. 65.000,-

Sackdress Batik Scd.03-21

KODE : Scd.03-21
-Sackdress batik tanpa lengan
-Warna kombinasi kuning, coklat, hitam
-Ukuran all size
-Harga = Rp.65.000,-

Blouse Batik Sb.03-25

KODE : Sb.03-25

-Blouse batik model ABG
-Warna kombinasi hijau, merah,kecoklatan
-Ukuran all size
-Harga = Rp. 35.000,-

Blouse Batik Sb.03-24

KODE Sb.03-24
-Blouse batik jenis ABG
-Warna kombinasi ungu, hijau, kecoklatan
-Ukuran all size
-Harga Rp. 35.000,-

Senin, 04 April 2011

Sackdress Batik P-18

KODE : P-18

-Sackdress batik lengan pendek
-Warna merah muda kecoklatan
-Ukuran all size
-Harga = Rp. 65.000,-

Sackdress Batik P-19

KODE : P-19

-Sackdress Batik lengan pendek
-Warna dominan orange kecoklatan
-Ukuran all size
-Harga = Rp. 65.000,-

Sackdress Batik P-20

KODE : P-20

-Sackdress batik lgn pendek
-Warna kombinasi kebiruan dan merah kecoklatan
-Ukuran all size
-Harga Rp. 65.000,-

Hem Batik Lurik Sh.03-17

KODE : Sh.03-17

-Hem perpaduan batik dan lurik, lgn pendek
-Warna dasar keunguan
-Ukuran : L, XL
-Harga = Rp. 60.000,-

Hem Batik Lurik Sh.03-18

KODE : Sh.03-18

-Hem perpaduan batik dan lurik, lgn pendek
-Warna dasar kehijauan
-Ukuran : L, XL
-Harga = Rp. 60.000,-

Hem Batik Lurik Sh.03-19

KODE : Sh.03-19
-Hem perpaduan batik dan lurik, lgn pendek
-Warna dasar coklat
-Ukuran : L, XL
-Harga Rp. 60.000,-

Sandal

Sandal Eksklusif

-Warna merah
-Ukuran : 38
-Harga Rp.80.000,-

Senin, 28 Maret 2011

Sackdress Batik Scd.03-13

KODE : Scd.03-13

-Sackdress batik terbaru, lengan pendek
-Warna dominan biru dan coklat
-Ukuran all size
-harga = Rp. 65.000,-

Sackdress Batik Scd.03-12

KODE : Scd.03-12

-Sackdress Batik lengan pendek
-Warna kombinasi biru,kehijauan, kecoklatan
-Ukuran all size
-Harga = Rp.65.000,-

Sackdress Batik Scd.03-14

KODE : Scd.03-14

Sackdress batik yang unik, lucu dan terkesan seksi ini hanya dibandrol dengan harga Rp.65.000,-/ptg.
-Ukuran : all size
-Harga = Rp.65.000,-

Batik Sarimbit (Pasangan) Srb.03-15

KODE : Srb.03-15

Busana batik pasangan (sarimbit) yang sangat menawan ini kami tawarkan dengan harga sangat murah yakni Rp.139.000,- /pasang.
-Ukuran baju wanita all size, ukuran baju pria XL
-Harga Rp.139.000,-/psg

 
8 Komentar

Posted by pada April 28, 2011 in Uncategorized

 

Tempat wisata di jawa tengah, timur, dan barat

Tempat wisata di Jawa Timur

1. Air terjun coban rondo yang terletak di desa Pandesari kecamatan pujon kabupaten malang.dinamai coban rondo karena ceritanya ada seorang janda (bahasa jawa rondo) sedang sedang bertapa dibawa air terjun tersebut.

2.Pemandian Dewi Sri yang terletak di desa Ngroto kecamatan pujon kabupaten malang.Air di pemandian ini diyakini bisa membuat awet muda.

3.Air terjun coban pelangi yang terletak di Kecamatan Tumpang kabupaten malang.

4.Air terjun coban rais yang berada di kecamatan junrejo kota batu.

5.Air terjun coban glotak yang berada dikaki gunung katu kecamatan wagir kabupaten malang.

6.Pemandian air panas cangar yang terletak di kecamatan Bumiaji kota Batu yang tempatnya tepat dilereng gunung welirang

Wisata Jawa Tengah

CANDI BOROBUDUR.

Candi Borobudur adalah salah satu objek peninggalan masa lampau terbaik di dunia, bahkan Borobudur pernah dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban yang ada di dunia.

CANDI PRAMBANAN.

Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Berlokasi di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

PEMANDIAN AIR PANAS GUCI, TEGAL.

Pemandian air panas Guci merupakan objek wisata yang merupakan petilasan Sunan Gunungjati dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia.

KLENTENG SAM POO KONG (GEDUNG BATU), SEMARANG

Dikisahkan bahwa seorang utusan dari Tiongkok yang bernama Sam Poo Tay Djien dalam lawatannya ke Semarang sempat membangun sebuah tempat peribadatan berupa Klenteng. Pada saat itu beliau sedang dalam perjalanannya menuju negara-negara di Asia.

KETEP PASS, MAGELANG.

Ketep Pass atau Bukit Ketep merupakan sebuah bukit yang terletak di Desa Ketep, Magelang dan berada pada ketinggian sekitar 1.200 Meter di atas permukaan laut.

KEPULAUAN KARIMUNJAWA

Salah satu objek wisata bahari unggulan di Jawa Tengah ialah kepulauan Karimunjawa yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Jepara, juga satu-satunya kecamatan di Jawa Tengah yang dipisahkan lautan dengan daratan Jawa.

GEDUNG LAWANG SEWU, SEMARANG.

Gedung Lawang Sewu sejatinya merupakan sebuah bangunan gedung dengan pintu yang jumlahnya banyak. Gedung ini awalnya difungsikan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api milik Belanda

MOUNTAIN RESORTS TAWAMANGU, SURAKARTA

Objek wisata alam Tawangmangu merupakan sebuah tempat sejuk di pegunungan dengan pemandangan indah juga air terjun yang memukau yaitu air terjun Grojogan Sewu yang memiliki ketinggian sekitar 81 meter.

CURUG SEWU, SEMARANG.

Curug Sewu atau air terjun seribu sejatinya merupakan obyek wisata air terjun bertingkat tiga dengan ketinggian sekitar 70 meter.

MASJID AGUNG DEMAK

Masjid Agung Demak merupakan situs peninggalan Islam tertua di Indonesia berupa sebuah mesjid kuno yang arsitekturnya masih perpaduan antara arsitektur jawa kuno pada masa kerajaan Hindu.

MASJID KUDUS DAN MENARA KUDUS
Masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kalijaga pada abad ke 16 yang merupakan salah satu dari Walisanga, penyebar agama Islam yang terkenal di Pulau Jawa.

BATURADEN, PURWOKERTO.
Baturaden adalah sebuah objek wisata alam yang terletak di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Baturaden terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepat di lereng sebelah selatan Gunung Slamet.

CANDI GEDONG SONGO, SEMARANG.
Candi Gedong Songo merupakan komplek candi yang terletak di perbukitan dengan jumlah sembilan candi. Untuk dapat menunjunginya, anda bisa menyewa kuda yang banyak terdapat di tempat wisata ini dengan harga sekitar Rp. 50.000.

RAWA PENING, AMBARAWA.
Taman Wisata Rawa Pening merupakan sebuah danau dengan luas sekitar 2.670 hektare dan terletak di daerah Ambarawa, tepatnya terdapat di antara jalan Raya Semarang – Salatiga

KAWASAN BANDUNGAN, AMBARAWA.
Kawasan Bandungan merupakan daerah wisata pegunungan yang terdapat di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Daerah ini memiliki udara yang sejuk dan jauh dari polusi serta pemandangan alamnya yang indah

MUSEUM KERETA API AMBARAWA.
Waktu seakan berhenti di tempat ini. Museum kereta Api Ambarawa awalnya merupakan stasiun Ambarawa yang dialih fungsikan menjadi Museum

pariwisata jawabarat

pelabuhan ratu

Pelabuhan Ratu berjarak 70 Km dari kota Sukabumi arah barat daya. Jalan ke kawasan ini relatif sudah bagus karena selain tempat tujuan wisata, juga sebagai tempat pusat pemerintahan kabupaten Sukabumi.Dengan tiket Rp. 2.000/ orang (dewasa), Rp. 1.000 (anak anak), mobil Rp. 5.000, anda dapat menikmati pesona pantai yang sangat menawan. Air yang berwarna biru kehijauan tampak berkilau disiang hari.
Pelabuhan ratu

Pelabuhan Ratu merupakan sebuah teluk dengan ombak yang tenang namun cukup berbahaya karena kedatangan ombak besar yang kadang tidak terduga dan relief dasar pantai yang curam landai.

Pelabuhan Ratu merupakan sebuah teluk dengan ombak yang tenang namun cukup berbahaya karena kedatangan ombak besar yang kadang tidak terduga dan relief dasar pantai yang curam landai.

Dikawasan Pelabuhan Ratu ini anda bisa membeli ikan ikan segar yang tersedia di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Fasilitas hotel bervariasi dari kelas murah s/d kelas mahal. Salah satu hotel sebagai ikon Pelabuhan Ratu adalah Inna Beach Hotel. Konon hotel ini memiliki cerita mistis yang berhubungan dengan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul.

Disamping Inna Beach Hotel terdapat taman yang bisa jadi tempat parkir dan bermain dengan air laut. Tempat ini dibawah pengelolaan Hotel Kadaka. Suasana cukup rindang, terdapat fasilitas MCK dan juga banyak pedagang yang menjajakan jajanan dan es kelapa muda. Diseberang taman masih dijumpai hutan (Sukawayana) dan terkadang monyet ekor panjang (Macaca sp) ikut bermain, mencari sisa sisa makan bekas pengunjung.

Curug Cilember atau Air Terjun Cilember

Air terjun atau curug yang terdapat di daerah Puncak, Jawa Barat adalah lokasi yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dan bisa menjadi tujuan wisata petualangan yang menarik untuk Anda sekeluarga. Di tempat ini, Anda dapat mengunjungi air terjun sebanyak tujuh buah. Dan untuk menaklukkan ketujuh air terjun ini butuh upaya yang tidak mudah.

Setelah memasuki pintu masuk, Anda bisa mengunjungi air terjun ke-7. Air terjun ini tidak jauh lokasinya dari pintu masuk.

Selain itu, untuk mengunjungi air terjun ke-7 tidaklah sulit, karena sudah tersedia jalan yang mudah dilalui. Fasilitas yang tersedia pun cukup lengkap, seperti fasilitas MCK dan ruang ganti pakaian. Air terjun ke-7 juga cukup bagus untuk dinikmati dengan ketinggian sekitar 40 meter.

Dari air terjun ke-7, tujuan selanjutnya adalah air terjun ke-5. Air terjun ke-6 memang terletak di antara air terjun ke-7 dan ke-5, namun tidak tersedia jalan setapak menuju air terjun tersebut. Untuk mencapai air terjun ke-5, medan yang harus dilalui mulai sulit. Jalan setapak yang licin dan berbatu harus dilewati untuk mencapainya. Lama perjalanan dari air terjun ke-7 hingga ke-5 memakan waktu kira-kira 20 hingga 30 menit berjalan kaki. Begitu sampai di air terjun ke-5, kondisi begitu indah dan lebih alami. Di sini juga tersedia fasilitas MCK, tenda dan juga kamar ganti pakaian. Ada juga warung makanan di area air terjun ke-5.

Setelah air terjun ke-5, petualangan yang sebenarnya dimulai. Untuk mencapai air terjun ke-4 hingga air terjun ke-1 butuh perjuangan yang cukup berat. Kondisi jalan yang licin, berbatu dan juga banyak lintah akan menambah tantangan. Namun begitu mencapai ke air terjun ini, akan ada perasaan bahagia karena berhasil melewati rintangan-rintangan di perjalanan yang cukup sulit. Kondisi air terjun juga begitu alami dan indah.

ciwidey – lembang bandung

Seperti yang diungkapkan oleh sebuah sumberdari internet, kawah ini (2.194m dpl) sebenarnya terbentuk akibat letusan Gunung Patuha pada abad X dan XII silam. Gunung Patuha, atau sering jg disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Gunung Sepuh (Pak Tua), memiliki ketinggian 2.434m diatas permukaan laut dan bersuhu sekitar 8-22 derajat celcius.

Air kawah ini katanya sedikit berbeda dengan kawah lain di Jawa Barat. warna air yang terang dan selalu berubah2 akhirnya menjadi daya tarik tersendiri. permukaan kawah umumnya berbatu dan berpasir warna putih, sehingga kawah ini kemudian dikenal sebagai kawah putih. beberapa peneliti mengatakan bahwa gunung patuha masih aktif, sehingga ditemukan beberapa pancaran kawah yang masih bergejolak.

didekat tempat ini pula ditemukan sebuah goa sedalam 5 meter yang pernah dipakai sebagai tambang belerang. tak heran jika beberapa kawah tiba2 beruap banyak, dan pengunjung didapati terbatuk2 akibat menghirup hawa belerang yang berbau sangat tajam.

Image<br />
Hosted by ImageShack.us” border=”0″ /></a><br />
Seperti yang diungkapkan sumber di atas, berbagai jenis flora dan fauna turut memperkaya keberadaan tempat wisata ini. Beberapa jenis flora antara lain Cantigi, Lemo (konon berbau seperti minyak lawang dan dapat digunakan untuk mengusir ular), Vaccinium (tanaman khas yang hidup didaerah kawah), serta Eidelweis yang tumbuh di puncak gunung. Sedangkan jenis fauna yang kerap muncul antara lain elang, monyet, kancil, babi hutan, macan kumbang dan macan tutul.</p>
<p><a href=Image<br />
Hosted by ImageShack.us” border=”0″ /></a></p>
<p>Dahulu kala, masyarakat menganggap kawasan ini kawasan yang angker karena banyak burung mati seketika melewati kawah ini. katanya lagi di tempat ini merupakan kerajaan jin dan tempat bersemayam roh para leluhur. kepercayaan inipun lantas dibantah, ketika pada tahun 1837 seorang ilmuwan Belanda Jerman Dr. Franz Wilhelm Junghuhn melakukan penilitian dan menemukan bahwa keangkeran tsb tidak lain disebabkan oleh adanya semburan lava belerang yang berbau sangat menyengat. namun saat ditemukannya fakta tersebut masyarakat belum tertarik menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. baru setelah PT Perhutani mengembangkan tahun 1987, kawasan kawah putih dijadikan sebuah objek wisata di jawa barat.</p>
<p>Menurut keterangan dan gambar yang diperoleh ESDM, belerang/sulfur merupakan mineral hasil proses vulkanis yang berwarna cenderung kuning atau kehitam2an. Sifat belerang antara lain tidak larut dalam air dan dapat larut dalam minyak bumi, minyak tanah, penghantar panas dan listrik yang buruk. apabila dibakar apinya berwarna biru dan engasilkan gas SO2 yang berbau busuk. Belerang banyak digunakan di industri pupuk, kertas, cat, plastik, bahan sintetis, mengolahan minyak bumi, karet, gula pasir, accu, kimia, bahan peledak, petenunan, film dan fotografi, logam serta besi baja. Di indonesia telah diketahui 6 propinsi yang memiliki potensi belerang dengan total cadangan sekitar 5,4 juta. untuk tipe sublimasi, selama gunung berapi masih aktif maka belerang tipe ini dapat diproduksi, sehingga sumber daya belerang sublimasi dianggap tidak terbatas.</p>
<p>menuju tempat ini tidaklah sulit. Lokasi kawah putih dapat ditempuh melalui perjalanan sejauh 46 km atau 2,5 jam ke arah selatan kota Bandung. dari pintu masuk, masih ada sekitar 5km yang harus dilalui. sepanjang perjalanan tersebut kita bs menemui hutan hujan tropis dan Eucalyptus. pulang dari kawah putih kalian bs meneruskan perjalanan ke Situ Patengan or berkemah ke Ranca Upas, yang juga merupakan tempat penangkaran rusa, dan jangan lupa singgah di perkebunan strawberry di kawasan Rancabali. disana kalian bs memetik sendiri buahnya tuk dibawa pulang.</p>
<p><a href=

 
2 Komentar

Posted by pada April 27, 2011 in Uncategorized

 

Lagu-lagu Jawa

Gambang Suling – Provinsi Jawa Tengah ::: Lirik Lagu Daerah Musik Nasional Tradisional Indonesia

Sun, 21/05/2006 – 12:15pm — godam64

Karangan / Ciptaan : Ki Narto Sabdo

Gambang suling ngumandang swarane
Tulat tulit kepenak unine
Unine mung nrenyuh ake
Barengan lan kentrung ketipung suling
Sigrak kendangane

Suwe Ora Jamu – Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ::: Lirik Lagu Daerah dan Musik Nasional Indonesia

Tue, 25/04/2006 – 12:16am — godam64

Suwe ora jamu
Jamu godhong tela
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gela
Suwe ora jamu
Jamu godhong tela
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gela

Gundul Pacul – Provinsi Jawa Tengah ::: Lirik Lagu Daerah dan Musik Nasional Indonesia

Thu, 04/05/2006 – 9:23pm — godam64

Pencipta / Pengarang Lagu dan Lirik : R.C. Hardjosubroto

Gundul gundul pacul cul gelelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi dak ratan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan

Setasiun Balapan

Ning stasiun balapan

Kuto solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamuNing stasiun balapan
Rasane koyo wong kelangan
Kowe ninggal aku
Ra kroso netes eluh ning pipiku

Da a… Dada sayang
Da… Slamat jalan

Reff:
Janji lungo mung sedelo
Jare sewulan ra ono
Pamitmu naliko semono
Ning stasiun balapan solo

Jare lungo mung sedelo
Malah tanpo kirim warto
Lali opo pancen nglali
Yen eling mbok enggal bali

Sekonyong-konyong Koder
Cintaku sekonyong-konyong koder
Karo kowe cah ayu sing bakul lemper
Lempermu pancen super resik tur anti laler
Yen ra pethuk sedino neng sirah nggliyerCintaku sekonyong-konyong koder
Paribasan durung demok wani panjer
Modal bensin seliter montorku tak setater
Tak ampiri arep tak ajak muter-muter

Tiwas aku dandan mlipit
Rambutku tak ulet ngangge pomit
Malah kowe lungo plencing
Ora pamitmit..mit..mit.mit..miiit

Ref. Biiir..temulawak
Nggon ku mikir neng awak ngartii rusa..ak
Rusaaaak..njobo njero,
Sing tak pikir jebule koyo ngono!

Kembang jambu grogot dipangan uler(ler)
Cintaku sekonyong-konyong koder
Uler keket mlakune klogat-kloget
Allah jabang bayi jebul aku keno pelet…

 
15 Komentar

Posted by pada April 26, 2011 in Uncategorized

 

Kamus Bahasa Jawa Beserta Artinya

Kata – kata Umum (sering di pakai)

Iya             : Enggeh

Tidak         : Mboten

Jangan      : Ampun

Lagi            : Malih

Makan       : Dhahar

Minum      : Ngunjuk

Mandi        : Siram

Tidur          : Sare

Jalan          : Mlampah

Duduk        : Lenggah

Pulang       : Wangsul

Jatuh         : Dhawah

Pergi          : Kesah

Masuk        : Mlebet

Keluar        : Medal

Takut          : Ajrih

Lupa           : Kesupen

Ingat           : Kemutan

Ngerti         : Ngertos

Duit             : Arto

Datang       : Dugi

Baca            : Maos

Tulis            : Nyerat

Berani         : Wantun

Ini                : Niki

Itu                : Niku

Dengar        : Mireng

Puasa           : Siam

Lebaran      : Syawal

Bangun       : Wungu

Panas           : Benter

Hujan          : Jawah

Dingin         : Asrep

Sakit            : Gerah

Lebih          : Langkung

Kurang       : Kirang

Mati             : Sedo

Hidup         : Gesang

Warna

Merah        : Abrit

Putih          : Pethak

Hitam        : Cemeng

Biru            : Biru

Kuning      : Kuning

Coklat        : Coklat

Hijau          : Ijo

Anggota Badan

Mata          : Tingal

Hidung      : Grana

Mulut        : Lati

Gigi            : Waja

Kaki           : Suku

Tangan     : Asto

Rambut   : Rikmo

 
14 Komentar

Posted by pada April 25, 2011 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.